Indonesia
memang negara yang kaya akan budaya. Budaya – budaya yang berbeda-beda. Melihat
refferensi dari kompasiana.com saya tertarik melihat budaya yang merupkan tempat
darimana saya berasal walaupun saya hanya orng transmigan ke daerah sumatera
selatan yaitu budaya Komering.
Sumatera
Selatan merupakan sebuah wilayah yang demikian luas dan beragam budaya serta
sukunya. Ada wilayah yang disebut sebagai Komering yang merupakan salah satu
wilayah budaya di daerah ini Sumatera Selatan . Lazimnya suku-suku di provinsi Sumatera
Selatan, karakter suku komering adalah penjelajah sehingga penyebaran suku ini
cukup luas hingga ke Lampung.
Suku
Komering terbagi beberapa marga, di antaranya marga Paku Sengkunyit, marga
Sosoh Buay Rayap, marga Buay Pemuka Peliyung, marga Buay Madang, dan marga Semendawai.
Wilayah budaya Komering merupakan wilayah yang paling luas jika dibandingkan
dengan wilayah budaya suku-suku lainnya di Sumatra Selatan. Selain itu, bila
dilihat dari karakter masyarakatnya, suku Komering dikenal memiliki temperamen
yang tegas.
Berdasarkan temuan dan
analisa sejarah, Dusun Minanga Tuha, di daerah marga Semendawai Suku I, atau
dusun keenam dari Dusun Gunung Jati diperkirakan merupakan pusat Kerajaan
Sriwijaya bagian awal. Sedangkan Palembang diyakini sebagai pusat Kerajaan
Sriwijaya bagian tengah, dan Jambi sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya bagian
akhir. Kala itu, Minanga Tuha, sebagai kota pelabuhan, atau tempat berlangsungnya
aktivitas bongkar dan muat barang serta bersandarnya kapal-kapal Sriwijaya
maupun kapal-kapal asing yang memiliki baik hubungan dagang, politik, budaya, maupun
religi dengan Sriwijaya.
sejak abad pertengahan, suku Komering, sama halnya dengan rumpun Melayu lainnya, menerima Islam sebagai sebuah agama dan kepercayaan. Kedatangan Islam itu melahirkan mitos. Mitosnya mengenai seorang panglima dari bala tentara Fatahilah, Banten, bernama Tandipulau, yang menjadi tamu di daerah marga Semendawai Suku III. Ia datang menggunakan perahu menelusuri Sungai Komering. Tandipulau berlabuh dan menetap di daerah marga Semendawai Suku III, tepatnya di Dusun Kuripan. Keturunan Tandipulau membuka permukiman baru di seberang sungai atau seberang dusun Kuripan, yang disebut Dusun Gunung Jati. Selanjutnya, marga Semendawai disebut keturunan Tandipulau dari Dusun Kuripan.
Tandipulau dalam bahasa Komering berarti ‘tuan di pulau’. Makamnya, yang terletak di Dusun Kuripan, hingga kini masih terpelihara. Masyarakat Komering, khususnya marga Semendawai, sering berziarah kubur ke makam tersebut.
sejak abad pertengahan, suku Komering, sama halnya dengan rumpun Melayu lainnya, menerima Islam sebagai sebuah agama dan kepercayaan. Kedatangan Islam itu melahirkan mitos. Mitosnya mengenai seorang panglima dari bala tentara Fatahilah, Banten, bernama Tandipulau, yang menjadi tamu di daerah marga Semendawai Suku III. Ia datang menggunakan perahu menelusuri Sungai Komering. Tandipulau berlabuh dan menetap di daerah marga Semendawai Suku III, tepatnya di Dusun Kuripan. Keturunan Tandipulau membuka permukiman baru di seberang sungai atau seberang dusun Kuripan, yang disebut Dusun Gunung Jati. Selanjutnya, marga Semendawai disebut keturunan Tandipulau dari Dusun Kuripan.
Tandipulau dalam bahasa Komering berarti ‘tuan di pulau’. Makamnya, yang terletak di Dusun Kuripan, hingga kini masih terpelihara. Masyarakat Komering, khususnya marga Semendawai, sering berziarah kubur ke makam tersebut.
Sebagaimana juga ditulis Zawawi
Kamil (Menggali Babad & Sedjarah Lampung) disebutkan dalam sajak dialek
Komering: “Adat lembaga sai ti pakai sa buasal jak Belasa Kapampang, sajaman
rik Tanoh Pagaruyung pemerintah Bunda Kandung, cakak di Gunung Pesagi rogoh di
Sekala Berak, sangon kok turun-temurun jak ninik puyang paija, cambai urai ti
usung dilom adat pusako”.
Terjemahannya berarti “Adat Lembaga yang digunakan ini berasal dari Belasa Kepampang (Nangka Bercabang), sezaman dengan Ranah Pagaruyung pemerintah Bundo Kanduang di Minang Kabau – yang dipengaruhi oleh Islam- Naik di Gunung Pesagi turun di Sekala Brak, Memang sudah turun temurun dari nenek moyang dahulu, Sirih pinang dibawa di dalam adat pusaka, Kalau tidak pandai tata tertib tanda tidak berbangsa”.
Seperti ditulis oleh Ahmad Yani, seorang kolumnis dari Lampung,dalam bloognya, dikisahkan, di dalam Suku Komering itu terdapat paling tidak dua ragam intonasi suara dalam berbahasa (Dialek/Logat), Dialek Suku Komering Marga Bengkulah akan terdengar cenderung berintonasi lebih datar, halus serta tidak mendayu jika dibandingkan dengan Bahasa Komering Ulu (mendiami bagian hulu Sungai Komering) yang intonasinya akan cenderung lebih tegas, tinggi dan mendayu.
Kemudian jika masalah intonasi suara (Dialek/Logat) antara Bahasa Komering pada umumnya (Komering OKU) dibandingkan dengan Bahasa Batak yang memiliki kemiripan, yaitu sama-sama berintonasi dialek/logat yang tinggi dan tegas (keras/lantang) menjadi latar belakang pendapat yang mengatakan bahwa asal usul Suku Komering masih ada hubungan yang erat dengan Suku Batak di Sumatera Utara.
Terjemahannya berarti “Adat Lembaga yang digunakan ini berasal dari Belasa Kepampang (Nangka Bercabang), sezaman dengan Ranah Pagaruyung pemerintah Bundo Kanduang di Minang Kabau – yang dipengaruhi oleh Islam- Naik di Gunung Pesagi turun di Sekala Brak, Memang sudah turun temurun dari nenek moyang dahulu, Sirih pinang dibawa di dalam adat pusaka, Kalau tidak pandai tata tertib tanda tidak berbangsa”.
Seperti ditulis oleh Ahmad Yani, seorang kolumnis dari Lampung,dalam bloognya, dikisahkan, di dalam Suku Komering itu terdapat paling tidak dua ragam intonasi suara dalam berbahasa (Dialek/Logat), Dialek Suku Komering Marga Bengkulah akan terdengar cenderung berintonasi lebih datar, halus serta tidak mendayu jika dibandingkan dengan Bahasa Komering Ulu (mendiami bagian hulu Sungai Komering) yang intonasinya akan cenderung lebih tegas, tinggi dan mendayu.
Kemudian jika masalah intonasi suara (Dialek/Logat) antara Bahasa Komering pada umumnya (Komering OKU) dibandingkan dengan Bahasa Batak yang memiliki kemiripan, yaitu sama-sama berintonasi dialek/logat yang tinggi dan tegas (keras/lantang) menjadi latar belakang pendapat yang mengatakan bahwa asal usul Suku Komering masih ada hubungan yang erat dengan Suku Batak di Sumatera Utara.
Saya tinggal di daerah
komering dengan marga semendwai. Dimana banyak sekali makam yang katanya makam
bersejarah. Sebagai orang awam yang tidak banyak tau tentang sejarah dan adat, kita menjadi tau ternyata budaya komering
menyimpan banyak sejarah. Seperti sejarah kerjaan sriwijaya yang kita ketahui. Sebagai
anak bangsa yang mecintai negeri indah ini kita harus tau budaya budaya yang
ada di Indonesia, at least budaya dimana kita tinggal.
Sumber : http://www.kompasiana.com/bangun_lubis/melirik-dan-memaknai-budaya-komering_54f9162ca33311ac048b45af

0 komentar:
Post a Comment